Januar Arifin

Pendakian Bersama Gunung Papandayan (Open Trip)

Posted by Januar on Sabtu, 01 November 2014


Saya bersama kawan-kawan mengadakan Pendakian Bersama Gunung Papandayan. Tujuan Pendakian ini adalah sharing-sharing serta ngopi bersama untuk mempererat silaturrahmi diantara penggiat alam. Kegiatan ini terbuka untuk umum. Barangkali ada yang minat silahkan hubungi contact person yang tertera pada gambar. 

Itinerary :
Hari Pertama :

  • Tangga 7 November Pukul 19.00 meeting point di daerah Bintaro Pondok Aren (Tempat Keberangkatan Bus yang kami sediakan)
Hari Kedua :

  • Diperkirakan tiba di Cisurupan Pukul 03.00 (berganti menggunakan mobil pick-up menuju Camp David)
  • Pukul 05.00 diperkirakan tiba di Camp David
  • Packing ulang dan istirahat sebelum mendaki
  • Pukul 06.00 mulai trekking (berjalan santai sambil menikmati panorama Areal Kawah Vulkanik dan Daerah Lawang Angin)
  • Pukul 10.00 Tiba di Pondok Salada (Mendirikan tenda dan istirahat sejenak)
  • Pukul 11.00 Trekking menuju Tegal Alun
  • Pukul 12.00 Sampai di Tegal Alun. (menjelajahi kawasan ladang edelweis di Tegal Alun dan Snacking makan siang)
  • Pukul 14.00 Menuju ke Pondok Salada
  • Pukul 15.00 Tiba di Pondok Salada (istirahat dan Istirahat masuk tenda masing-masing)
  • Pukul 15.00 - Pukul 04.00 keesokan harinya, acara bebas, dooprize, sharing dan istirahat di tenda masing-masing
Hari Ketiga   
  • Pukul 04.30 Bangun dan sarapan pagi
  • Pukul 05.00 Menuju Hutan Mati dan Kawasan G. Nangklak
  • Pukul 05.30 Sampai di hutan mati (menikmati Hutan mati dan berfoto)
  • Pukul 08.00 kembali menuju Camp di Pondok Salada
  • Pukul 08.30 Tiba di Pondok Salada (packing perlatan masing-masing)
  • Pukul 09.30 Meninggalkan Pondok Salada
  • Pukul 12.00 Tiba di Camp David
  • Pukul 13.00 Menuju Kota Jakarta kembali.

Terima Kasih,
Januar Arifin

Pendakian Gunung Cikuray 2818 Mdpl "Duet Maut"

Posted by Januar on Jumat, 31 Oktober 2014


Pendakian kali ini awalnya tercetus dari pesan yang dikirimkan oleh teman saya yaitu Kang Bayu dari Bandung. Diperkirakan hanya 11-12 orang yang akan berangkat, ternyata oleh komunitas beliau (Satu Bumi Kita) dijadikan sebuah acara pendakian bersama berjumlah 25 orang lebih. Saya pun ikut serta bersama teman seperjalanan yaitu Madhot. Walaupun ternyata terjadi kendala diluar keinginan yang menyebabkan saya hanya berangkat berdua dengan Madhot. 

Berikut kisah selengkapnya : 

Jumat, 24 Oktober 2014

Sore hari saya masih terjebak kemacetan di daerah Soreang, Kab. Bandung untuk mengambil beberapa peralatan pendakian yang ada dirumah saudara. Sementara rombongan Mang Bayu sudah berkumpul di Terminal Cicaheum. Saya sudah merasa tidak akan bisa mengejar waktu lagi, akhirnya saya dan Madhot memutuskan untuk berangkat dari Terminal Leuwipanjang pada pukul 18.30 dan berjanjian dengan rombongan Mang Bayu di Garut. 

Namun, rencana hanya tinggal rencana. Kami terjebak kemacetan mulai dari exit toll Cileunyi sampai Rancaekek. Tak sampai disitu kemacetan juga ada di daerah Kadungora sampai Leles Garut. Saya sudah pasrah dan mempersilahkan rombongan Kang Bayu untuk berangkat menuju Pemancar Gunung Cikuray duluan.

Pukul 23.30 kami berdua baru tiba di Kota Garut. Kami turun di pom bensin Ciateul. Kami duduk-duduk sejenak sambil menunggu truk atau mobil pick-up yang lewat dengan tujuan menumpang sampai Terminal Guntur. Tak lama menunggu ada sebuah truk menawarkan untuk tumpangan gratis menuju terminal, kami langsung naik tanpa basa-basi. 

Sabtu, 25 Oktober 2014

Pukul 00.15 kami tiba di Terminal Guntur. Disana kami bertemu beberapa pendaki yang juga mau mendaki Gunung Cikuray. Kami ikut dengan mereka agar biaya sewa mobil pick-up-nya sedikit lebih miring. Akhirnya pada pukul 02.00 kami berangkat dari Terminal Guntur menuju Pemancar Gunung Cikuray. 

Perjalanan dari Terminal Guntur sampai Pemancar Gunung Cikuray memakan waktu sekitar satu jam setengah. Pukul 03.30 kami tiba di Pemancar Gunung Cikuray. Disana banyak sekali pendaki sehingga saya sulit menemukan Kang Bayu dan kawan-kawan. Saya berfikir mereka sudah jalan duluan sedari tadi.

Pukul 04.30 saya dan Madhot bersama teman-teman yang baru saja bertemu di teminal tadi sekitar 5 orang, kalau ga salah mereka dari Bekasi bersiap berangkat setelah mengisi full persediaan air. Kami memulai pendakian dengan berdoa terlebih dahulu agar setiap langkah kaki kami diberikan keselamatan oleh Sang Pemilik Kehidupan. 

Perjalanan dimulai dengan trek menanjak di areal perkebunan teh Dayeuh Manggung. Kemudian masuk kedalam hutan yang tak terlalu rapat. Pagi ini cuaca nampak berkabut dengan angin yang berhembus sangat kencang. Kami terus berjalan dengan santai sambil menikmati sejuknya udara pagi. Hari itu saya sangat bersemangat, langkah kaki terasa ringan sekali, mungkin seminggu lalu saya baru turun dari Gunung Gede, jadi kaki masih terasa nikmat di trek menanjak. Sementara rekan seperjalanan yaitu Madhot terlihat harus mulai beradaptasi lagi dengan kakinya sebab sudah lama ia tak mendaki gunung. 

Hari cepat sekali berubah menjadi terang, kami sudah berada di Pos 1. Kami berhenti sejenak untuk beristirahat. Setelah berhenti sejenak kami lanjutkan perjalanan. Kali ini langkah kaki lebih lambat sebab trek semakin terjal. Sering kami berhenti untuk sekedar menghela nafas dan menghisap batang-batang kehidupan. 

Si Janu (mentari pagi baru saja muncul langsung foto)
Tiba di Pos 2 kami langsung berjalan sebab tiap pos terlihat ramai oleh pendaki. Kami lebih memilih beristirahat di tempat yang agak sedikit sepi. Semakin tinggi mendaki semakin kami merasa kantuk yang sangat berat. Sebab dari kami berdua belum tidur dari kemarin malam. Kami berjalan terus melawan rasa kantuk di trek yang semakin terjal ini. 

Pukul 09.14 kami tiba di Pos 3. Disana juga banyak sekali pendaki yang mendirikan tenda. Kami terus melanjutkan pendakian dan mencari tempat yang sedikit sepi untuk beristirahat. Di Pos 3 ini kami berpisah dengan rombongan Bekasi yang bareng sejak terminal semalam. 

Kami harus pintar-pintar mengatur sisa-sisa tenaga, sebab selepas Pos 3 trek semakin menanjak curam. Tipe trek Gunung Cikuray sebenarnya mirip dengan Gunung Ciremei di Kuningan sana. Hanya saja trek Gunung Cikuray ini lebih pendek dibanding Gunung Ciremei. Makanya sering saya menyebutnya "Cikuray itu adalah Ciremei versi mini".

Trek Cikuray
Kami terus berjalan dengan sesekali berhenti menghela nafas. Ada satu spot dimana kami berhenti lumayan lama untuk mengisi perut dengan roti yang sudah dibawa dari rumah. Kami berhenti sekitar satu jam.

Hari ini nampak banyak sekali pendaki yang ingin naik ke atas. Memang Gunung Cikuray menjadi primadona saat ini semenjak kegiatan pendakian gunung ini sedang naik daun dikalangan pemuda Indonesia. Dahulu Gunung Cikuray ini termasuk sepi pendaki, paling banyak 5 rombongan yang mendaki. Kini hampir ratusan orang naik setiap weekend-nya. Hampir setiap pos dipenuhi tenda pendaki. Dalam pikiran saya selalu ditakuti oleh perasaan kalau kami tidak akan kebagian lapak untuk mendirikan tenda, untuk itu kami melanjutkan perjalanan kembali.
Setiap pos di Gunung Cikuray ini sangat sempit paling banyak bisa menampung 15 tenda. Untuk itu mendaki lah sedari malam hari agar mendapatkan tempat yang nyaman untuk mendirikan tenda.
Pos 4 dan pos 5 kami lewati dengan pasti. Kami berjalan santai menapaki satu demi satu tanjakan yang semakin lama semakin terjal. Pukul 12.30 kami tiba di Pos 6 atau Puncak Bayangan. Di pos ini ramai sekali pendaki yang sudah mendirikan tenda. Kami maju sedikit di tanah yang sedikit lapang lalu duduk untuk beristirahat.

Disini saya meninggalkan Madhot sendirian. Saya berniat untuk mendaki sedikit cepat sambil mencari lapak untuk mendirikan tenda. Madhot sudah mulai kelelahan dan nampak kantuk mendera dirinya. Saya mulai mendaki dengan cepat berharap lapak di Pos 7 atau dataran sebelum Puncak masih ada yang kosong.

Sekitar setengah jam saya mendaki dengan sedikit berlari saya sampai di Pos 7. Di pos tersebut hanya ada lapak seluas kisaran 2 tenda. Saya akhirnya maju sedikit ke atas dan menemukan Pos 7 yang agak luas. Disana sudah banyak berdiri tenda. Saya mencari tempat yang sedikit kosong untuk ukuran tenda 2 orang.

Disana saya mendapatkan lapak untuk tenda saya yang berukuran 2 orang. Tapi posisi tanah miring untuk mendirikan tenda. Bagi saya kemiringannya masih sangat normal untuk tenda karena saya pernah tidur miring sekali waktu di Pestan Gunung Sumbing sana. Saya berbincang sejenak dengan 2 orang pendaki. Mereka adalah anak-anak dari Garut. Setelah saya berbincang sambil beristirahat sejenak. Saya menitipkan barang kepada mereka lalu saya kembali turun untuk menjemput Madhot.

Dalam perjalanan turun saya bertemu banyak pendaki yang naik. Rata-rata pendaki yang naik bertanya tentang adakah lapak yang kosong untuk mendirikan tenda.Hari itu memang semua lapak mendirikan tenda sudah full menurut saya.

Sedang asyik menikmati jalur turun saya bertemu Kang Gustav dari SatubumiKita Bandung. Saya sempat mengobrol sejenak, karena mereka lah rombongan yang sedari awal harusnya bareng dengan saya. Karena macet kemarin jadi tidak bisa mendaki bersama. Kang Gustav juga menanyakan tentang lapak yang kosong di Pos 7. Namun saya yakin diatas masih ada beberapa lapak yang bisa dimaksimalkan untuk tenda lagi.

Saya tak lama turun langsung bertemu Madhot sedang beristirahat dan tidur dibawah pohon. Kami langsung mendaki ke atas kembali menuju tempat yang sudah saya dapat di Pos 7. Sekitar 45 menit berjalan akhirnya kami sampai di Pos 7. Kami langsung mendirikan tenda dan langsung membuat mie instan sebagi pengisi perut yang sedari malam belum terisi.

Baru kali ini bawa snack segede ini
Lapak tenda penuh terpaksa ditempat agak miring
5 Tahun Janu Jalan Jalan
Hari beranjak gelap, saya beserta pendaki disamping tenda berbincang-bincang hingga sekitar pukul 20.00. Kemudian saya masuk ke dalam tenda untuk beristirahat. Cuaca diluar nampaknya mulai gerimis dan berkabut tebal. Malam ini terasa sangat dingin sekali ditambah kondisi badan yang sedang tidak bagus. Akhirnya saya terlelap dalam selimut dingin angin Cikuray.

Minggu, 26 Oktober 2014

Pukul 03.00 saya terbangun dari tidur. Pagi ini badan terasa dingin sekali. Saya akhirnya kembali masuk ke dalam sleeping bag untuk kembali tidur. Pukul 08.00 saya kembali terbangun. Kali ini saya langsung bergegas memasak nasi untuk sarapan pagi hari. Hari itu nampak berkabut, beberapa pendaki lain yang baru turun dari puncak berkata bahwa di puncak cuaca sangat gelap berkabut. 

Pukul 09.00 semua masakan telah matang. Saya beserta teman-teman sekitar tenda yang berasal dari Garut dan Majalaya ikut sarapan bersama. Menu hari ini cukup sederhana yaitu sayur sop, tempe, dan mie instan. 

Sarapan Pagi
Selesai sarapan, kami semua beres-beres tenda dan mulai packing barang bawaan. Kawan-kawan dari Garut dan Majalaya memilih pulang duluan. Sementara saya dan Madhot masih santai dalam packing barang. Kami packing semua barang namun menyisakan tenda. Semua barang dimasukan dalam tenda dan saya berniat untuk ke Puncak Cikuray sebentar.


Dari tempat kami mendirikan tenda ke Puncak Gunung Cikuray paling lama 10 menit. Setibanya kami di puncak masih terdapat beberapa pendaki yang belum turun. Cuaca memang cerah namun berkabut. Pemandangan ke bawah dan sekitar puncak kali ini kurang bagus. Tak masalah bagi kami sebab kami bukan pengejar pemandangan yang indah tapi kami pengejar pelajaran dan pengalaman dalam setiap pendakian. 
Saya yakin dari 100% pendaki yang mendaki di hari itu sekitar 90% nya kecewa sebab tidak bisa melihat lautan awan di Puncak Gunung Cikuray. Karena cuaca dari pagi berkabut terus. Gunung Cikuray bukan sekedar lautan awan yang indah tapi pelajaran dari setiap jengkal tanah yang kita pijak juga indah.
Keadaan puncak tak berubah begitu banyak menurut saya, hanya beberapa lokasi berubah. Dimana lokasi dahulu merupakan pepohonan kini menjadi tanah lapang tempat mendirikan tenda. Bangunan di puncaknya juga sudah banyak lagi coretan-coretan oleh pendaki yang tidak bertanggung jawab. 
Selain sampah, masalah klasik di dunia pendakian adalah vandalisme tulisan di bangunan-bangunan pos, ukiran-ukiran di pohon. Inilah pendaki Indonesia, semakin banyak yang mengaku pecinta alam tapi alam semakin rusak. Miris!!
Di puncak kami sempat berfoto sejenak dan menikmati semilir angin yang berhembus. Waktu menunjukan pukul 11.00 saat itu.

Puncak sedikit berkabut siang itu
Di Puncak
Di Puncak
Pukul 12.00 kami memutuskan untuk turun dari Puncak Gunung Cikuray dan kembali menuju Pos 7 dimana tenda kami berada. Sekitar 5 menit turun kami tiba di Pos 7. Pos 7 sudah sepi dari pendaki, sebagian dari mereka sudah turun. Saya kembali packing barang bawaan. Setelah semua barang bawaan beres kami langsung "operasi semut" membersihkan sampah yang ada di Pos 7 dan memasukannya kedalam karung yang kami bawa. Seperti biasa saya namakan ini Aksi Karung Beras.

Pos 7 (terasa damai kalau sepi seperti ini)
Aksi Karung Beras
Pukul 12.30 kami sudah beres semuanya, kami mulai meninggalkan Pos 7. Kami berjalan turun dengan langkah pasti dan cepat. Sekitar setengah jam lebih kami tiba di Pos 6 Puncak Bayangan. Disana kami berhenti sejenak dan kembali mengumpulkan sampah dan memasukannya ke dalam karung.

Setelah dirasa cukup kami melanjutkan perjalanan. Kami berjalan turun dengan cepat namun tetap fokus. Pos 5 dan 4 tak sadar sudah kami lewati saat itu. Pukul 14.00 kami tiba di Pos 3. Disana kami berhenti sedikit lama untuk beristirahat minum dan menghisap beberapa batang rokok. Kami mengangkut beberapa sampah lagi untuk dimasukan dalam karung di Pos ini. 

Pukul 14.15 kami melanjutkan perjalanan turun dengan sedikit berlari hingga kami berhenti istirahat kembali di Pos 1 sekitar setengah jam. Dari Pos 1 kami berlari turun lagi menuju Pemancar. Di tengah perjalanan turun sebelum Pemancar saya kembali bertemu dengan Kang Gustav dan rombongannya. Akhirnya juga saya bertemu dengan Kang Bayu. Di atas ladang hampir sampai Pemancar saya beristirahat lagi sambil berbincang dengan Kang Bayu. Kemudian kami turun menuju Pemancar dan tercatat saat itu pukul 16.50. Alhamdulillah, kami semua selamat tanpa kekurangan satu hal yang berarti.

Pemancar ada disana
Kang Panggul sampah
Kang bawa aer
Sore itu, saya dan Madhot berniat untuk balik bareng dengan rombongan Satubumikita ke Bandung. Mereka mencarter truk sampai Terminal Guntur. Pukul 18.45 truk meninggalkan Pemancar menuju Terminal Guntur. Satu jam perjalanan kami tiba di Terminal Guntur. Kemudian kami langsung naik bus jurusan Terminal Cicaheum Bandung. Tiba di Bandung pukul 24.00. Kami berpisah dengan rombongan SatubumiKita di Cicaheum, karena kami melanjutkan dengan angkot menuju Kb. Kalapa. Akhirnya saya tiba di kosan Pukul 01.00. Alhamdulillah perjalanan kali ini tak ada halangan yang berarti.

Terima kasih Sudah menyimak. Sampai Jumpa di Pendakian Si Janu Lainnya!! Salam Lestari !!!

Thanks to :

- Allah S.W.T
- Madhot rekan seperjuangan
- Kawan dari Garut dan Majalaya (Berkat kompornya saya jadi bisa masak)
- Orang Tua ( Yang selalu mendoakan anak Mu ini)
- Komunitas SatubumiKita
- Gunung Cikuray ( Yang selalu menyambut Ku dengan sejuta pesona Mu).

Catatan :

-  Di Gunung ini tidak ada sumber air. Usahakan isi di desa atau di pemancar,
-  Trek lumayan menguras tenaga jangan sepelekan, badan kondisikan fit,
-  Jalur sudah cukup jelas, ikuti jalur dan jangan membuat jalur baru,
-  Hutan Cikuray masih sangat rapat, jaga dan lestarikan alamnya,
-  Patuhi kearifan lokal yang berlaku disana,
-  Jangan berbuat vandal. Jaga warna bangunan yang telah dicat, jangan dicorat-coret lagi,
- Jangan membuang air kencing di botol air mineral. Saya banyak menemukan botol berisi air kencing pendaki yang dibuang begitu saja di hutan. Kencing lah seperti biasa dan bawa turun botolnya!!!
-  SAMPAH bawa turun kembali !!!!

Selfie dulu biar kekinian :D

Pendakian Gunung Gede 2014

Posted by Januar on Kamis, 30 Oktober 2014


Kembali lagi dengan perjalanan saya menyusuri hijaunya hutan hujan tropis di Gunung Gede. Kali ini saya mendaki mengantarkan kawan-kawan dari Jakarta yang berjumlah 6 orang. Ini merupakan pengalaman pertama mendaki gunung bagi mereka. 

Mari simak kisah selengkapnya :

Jumat, 17 Oktober 2014

Hari jumat pukul 17.00 saya berangkat dari kediaman saya di Pondok Aren dengan menggunakan angkutan umum menuju Cibodas, Cianjur. Berawal diantar seorang teman menuju Lebak Bulus kemudian saya melanjutkan dengan naik bus jurusan Sukabumi. Satu jam lebih berlalu, saya tiba di daerah Ciawi, kemudian saya berganti bus untuk menuju Cibodas. Akhirnya pukul 21.00 saya tiba di Cibodas. 

Saya langsung menuju warung milik teman saya yaitu Kang Dindin (Toink). Kang Dindin merupakan teman lama saya yang dahulu membantu saya ketika ada kesalahan dalam urusan Simaksi (Surat Ijin Masuk Wilayah Konservasi). Kali ini pun begitu, saya bermasalah dengan Simaksi dan beliau lah yang mengurusnya hingga selesai.

Sabtu, 18 Oktober 2014

Pukul 02.00 kawan-kawan dari Jakarta tiba, kami langsung bergegas re-packing barang bawaan. Setelah itu, kawan-kawan beristirahat dan tidur sejenak di warung teman saya untuk menghilangkan rasa lelah di perjalanan. Awalnya saya berniat memberangkatkan kawan-kawan pada pukul 03.00 atau paling lambat pukul 05.00, hal ini bertujuan agar pada start awal dari jalur Cibodas ini mereka tidak banyak menguras tenaga, sebab mereka harus beradaptasi terlebih dahulu maklum ini pengalaman pertama bagi mereka. Akan tetapi mereka terlihat lelah sehingga baru bangun dari istirahatnya pada pukul 05.00.


Pukul 07.00 setelah semuanya beres, akhirnya kami bersiap berangkat menuju Pos Pemeriksaan Taman Nasional (1250 Mdpl). Kemudian saya melapor kepada petugas yang berjaga di pos pemeriksaan, waktu menunjukkan pukul 07.45. Kemudian kami mulai berjalan memasuki hutan hujan tropis di Gunung Gede ini. 


Kami berjalan menyusuri trek berbatu yang landai dengan santai sesekali berhenti untuk beradaptasi dengan kondisi gunung. Kami terus berjalan, Pos 1 (1375 Mdpl) terlewati lanjut menuju Pos 2 yaitu Telaga Biru (1575 Mdpl). Disana mereka berfoto-foto dahulu sambil menikmati Telaga Biru. 

Telaga Biru
Kemudian kami lanjut berjalan mendaki menyusuri jalan setapak hingga Pos 3 Panyacangan (1628 Mdpl). Disana terlihat banyak sekali pendaki maupun para wisatawan yang menuju Air Terjun Cibeureum. Kami berhenti sejenak di pos ini untuk meregangkan kaki dan menghela nafas. Terlihat di jam tangan sudah pukul 09.00. Sudah sangat siang menurut saya. 

Gunung Pangrango nampak berdiri gagah dilihat dari Rawa Gayongong
Kami melanjutkan pendakian kembali. Kami terus berjalan dengan banyak sekali berhenti di trek selanjutnya. Wajar saja sebab trek antara Pos 3 Panyacangan sampai Pos Air Panas memang sangat membosankan. Kadang landai, kadang menanjak dan berkelok-kelok. Disini kawan-kawan sudah mulai terlihat lelah dan gontai dalam berjalan.

Kawan-kawan mulai nampak lelah
Pukul 12.00 setelah perjalanan yang panjang dan berliku, akhirnya kami tiba di Pos Air Panas (2200 Mdpl). Disana kami beristirahat cukup lama. Kami merendamkan kaki di air panas untuk menghilangkan rasa pegal dan makan siang dengan roti yang telah kami bawa. 

Pukul 13.00 kami melanjutkan perjalanan menuju Pos Kandang Badak. Kami berjalan kembali dengan santai dan berirama. Sesekali dari kawan-kawan mulai terlihat kelelahan dan meminta untuk beristirahat. Akhirnya pada pukul 15.30 kami tiba di Pos Kandang Badak (2395 Mdpl). Saya langsung mencari lapak untuk beristirahat sebab banyak sekali pendaki yang mendirikan tenda di tempat ini.

Si Janu
Disini saya memberikan opsi yaitu, Pertama, kita mendirikan tenda di Pos Kandang Badak dan esok pagi baru lah kami menuju Puncak Gunung Gede. Kedua, kami lanjut berjalan dan mendirikan tenda di Alun-Alun Suryakencana.

Melihat kondisi fisik mereka yang sudah mulai lelah dan kondisi cuaca yang mulai gelap saya menyarankan untuk memilih opsi pertama. Akan tetapi saya disini hanya berperan sebagai pengantar, jadi apapun keputusan mereka yang menentukan. Ternyata mereka memilih opsi kedua. Setelah air terisi penuh satu derigen pada pukul 16.20, kami berangkat berjalan kembali. Saya kali ini membawa 2 ransel (double pack) depan-belakang. Sebab salah satu dari mereka sudah merasa tidak sanggup membawa ransel. 

Hari mulai gelap, gerimis mulai turun, tetapi kami terus berjalan. Trek makin menanjak dengan elevasi kemiringan yang makin miring. Magrib tiba sekitar pukul 17.50 kami baru sampai di daerah Tanjakan Rante (Tanjakan Setan). Beberapa dari mereka tertarik mencoba tebing Tanjakan Setan yang legendaris ini di lereng Puncak Gede. Namun, saya sedikit melarang sebab saat itu adalah waktu peralihan hari dari terang ke gelap. Beda hal jika siang atau malam hari. Hal ini saya lakukan demi keselamatan mereka juga.
Percayalah, jika anda dilarang oleh pengantar (guide) di gunung tentang apapun. Taati saja larangannya, sebab mereka lebih banyak tahu tentang kearifan lokal atau apapun yang diluar akal pikiran manusia. Jangan banyak bertanya, tanyalah ketika sudah berada di bawah.
Kami melewati jalur alternatif di sebelah jalur tebing Tanjakan Setan. Kami sudah sampai dilereng Puncak Gede. Ini merupakan tantangan terakhir yang sangat menguras tenaga sebelum sampai puncak. Sore itu langit sudah gelap gulita. Kami mengeluarkan alat penerangan untuk membantu berjalan. 

Kami terus berjalan di trek berbatu yang terjal. Kami banyak berhenti sebab sisa-sisa tenaga sudah hampir habis. Saya pun demikian, membawa 2 ransel membuat saya sedikit berjalan agak lambat. Hampir tiga jam lebih kami bertarung melawan diri sendiri berjalan di lereng Puncak Gede akhirnya kami tiba pada Pukul 21.00. Kami memutuskan untuk mendirikan tenda disini, sebab kawan-kawan sudah merasa kelelahan. 
Mendaki gunung itu bukanlah menaklukan gunung melaikan menaklukan diri sendiri melawan lelah, dingin dan emosi.
Angin dingin menyambut kedatangan kami. Mendirikan tenda di Puncak Gede halangan terbesarnya adalah angin yang berhembus sangat kencang. Saya mendirikan 2 tenda untuk kawan-kawan, kemudian satu tenda untuk saya sendiri. Malam itu kami semua hanya memakan makanan ringan, sebab yang paling mereka butuhkan adalah istirahat. 

Malam itu kami semua terlelap dalam selimut angin dingin Puncak Gunung Gede. 

Minggu, 19 Oktober 2014

Saya bangun dari tidur pada pukul 02.30 dan langsung memasak nasi untuk sarapan karena memasak nasi memerlukan waktu yang lumayan lama. Dini hari itu saya habiskan waktu untuk santai-santai menikmati keindahan langit sambil menghisap batang-batang kejenuhan.

Pukul 05.00 saya membangunkan kawan-kawan untuk menunggu sunrise sambil memasak sarapan pagi. Sambil menunggu masakan matang, saya mengobrol dengan pendaki yang lewat tempat camp kami. Pukul 07.30 akhirnya masakan jadi kami langsung mengisi perut yang kosong sedari malam.

Sarapan pagi
Pagi itu cuaca cerah sedikit berkabut, namun tak mengurangi keindahannya. Sering sekali saya mendaki gunung ini, tak pernah terlintas rasa jenuh sedikit pun. 
Selesai sarapan kami semua bergegas membereskan tenda dan barang bawaan. Kami bersiap melanjutkan perjalanan menuju Alun-alun Suryakencana. Pukul 09.30 kami sudah selesai membereskan semuanya, kami mulai berjalan menanjak sedikit menuju Top Puncak Gunung Gede. Sekitar 20 menit berjalan santai kami tiba di Top Puncak Gunung Gede (2958 Mdpl). 

Berjalan menuju top (trianggulasi Puncak Gede)
Sunrise pagi terhalang kabut
Kawah Gunung Gede
Nampak Gunung Pangrango. Kangen juga rasanya sudah lama tak mendakinya
Seperti biasa kami berhenti lama di Puncak Gede untuk berfoto-ria. Siang itu cuaca panas namun berkabut. Pemandangan sekitar kadang tertutup kabut maklum ini hampir masuk musim penghujan.

Tak lupa saya pun ikut berfoto di Puncak sebab bulan ini merupakan hari jadi ke-5 tahun web saya Janu Jalan Jalan. Tahun kemarin persis di bulan dan waktu yang sama saya juga berada di tempat ini. Berbeda dengan sekarang, tahun lalu saya mendakinya melalui jalur Selabintana, Sukabumi.

5 Tahun Janu Jalan Jalan. Tak terasa menulis travelblog sudah 5 tahun
Pukul 11.30 kami melanjutkan perjalanan turun menuju Alun-alun Suryakencana. Sekitar setengah jam berjalan menuruni batuan tertata rapih namun terjal, akhirnya kami tiba di Alun-alun Suryakencana (2700 Mdpl).

Alun-alun Suryakencana kali ini nampak gersang sekali, siang itu panas terasa menyengat. Saya bergegas untuk mengisi persediaan air. Sumber air di Alun-alun Suryakencana ternyata sedang kering. Akhirnya saya memutuskan berjalan ke barat arah jalur Selabintana. Disana saya menemukan sumber air jernih. Jarang sekali orang menemui sumber air ini, saya yakin hanya porter (guide) atau pendaki yang telah lama main di gunung ini yang tahu sumber air ini.

Alun-alun Suryakencana
Setelah semua persediaan air terisi penuh saya kembali menuju kawan-kawan. Waktu menunjukan pukul 12.30 kami langsung berjalan turun melalui jalur Gunung Putri. Kami berjalan santai menyusuri Alun-alun Suryakencana sambil berfoto-ria.
Keindahan tempat ini selalu saja menghipnotis saya walaupun sekarang sudah tak seindah dahulu. Edelweiss yang sedang mekar, angin dingin yang selalu berhembus, serta kabut tipis yang turun didepan saya membuat saya selalu tertarik untuk kembali.
Pukul 13.12 kami tiba di Alun-alun Timur, disana kami beristirahat sejenak. Perjalanan tinggal menurun memasuki hutan kembali. Kali ini trek turun Gunung Putri sudah berbatu tertata rapih berbeda dengan dahulu yang masih tanah dan dibeberapa bagian sangat terjal. Kini trek sudah baru tidak ada trek yang terjal lagi seperti dahulu. Saya pun baru kali ini lagi melalui jalur Gunung Putri.

Trek sudah diperkeras
Berjalan turun memang agak sedikit cepat namun harus tetap fokus agar tidak terpleset jatuh. Pos Simpang Maleber terlewati, kami terus berjalan sesekali berhenti untuk beristirahat. Kami terus berjalan turun, langit mulai terlihat mendung. Kami sampai di Pos 3 dan beristirahat sejenak. Kemudian kami melanjutkan perjalanan menurun hingga Pos 2 dan Pos 1 terlewati. Banyak sekali perubahan yang terjadi pada jalur Gunung Putri ini misalnya setiap shelter saat ini sudah direhab dan diperbarui.


Pukul 17.30 kami akhirnya sampai di Pos Pemeriksaan GPO (Gede Pangrango Operation). Kami melapor dan membuang sampah yang kami bawa dari gunung. Setelah itu kami langsung mencarter angkot menuju Cibodas kembali sebab kawan-kawan membawa kendaraan yang disimpan di Cibodas. Pukul 19.00 kami tiba di Cibodas dan secara bergantian menuju kamar mandi untuk bersih-bersih.

Pukul 20.30 kawan-kawan dari Jakarta berpamitan untuk pulang terlebih dahulu sedangkan saya masih santai berbincang dengan teman pemilik warung. Saya meninggalkan kawasan Cibodas pada pukul 22.00 menumpang angkot kosong yang turun ke pertigaan jalan raya Cimacan. Disana saya bertemu beberapa pendaki asal Depok dan kami akhirnya berbincang-bincang sambil menunggu bus jurusan Kp. Rambutan.

Pukul 23.00 bus jurusan Kp. Rambutan datang, saya pun naik untuk kembali ke Jakarta. Tercatat sampai di Jakarta pada pukul 01.30 dini hari. Waktu-waktu seperti ini sudah tidak ada angkutan jurusan Lebak Bulus kecuali taksi. Akhirnya saya duduk-duduk di depan warteg sambi mengobrol dengan pendaki lain yang baru saja pulang dari Garut.

Hingga tak terasa adzan subuh terdengar di telinga. Saatnya saya mencari bus jurusan Lebak Bulus. Setelah ada bus, saya langsung naik. Sekitar setengah jam sudah sampai di Lebak Bulus. Dari sana saya naik angkot menuju rumah tercinta. Tercatat pada pukul 06.15 saya tiba di rumah tanpa kekurangan satu hal pun. Alhamdulillah. . .

Terima kasih sudah menyimak. Sampai Jumpa di Pendakian Si Janu Lainnya. Salam Lestari!!!

Edelweiss G. Gede sedang Berbunga, jaga dan jangan dipetik #SaveEdelweiss
Ayo kawan penggiat alam
Bawa Sampah Mu turun kembali
Mari kita jaga tempat bermain kita!!!
#AksiKarungBeras

 Thanks to :

- Allah S.W.T
- Rombongan Jakarta (Jefri, Armando, Ivan, Rifki, Nanda, dan Ria)
- Orang Tua ( Yang selalu mendoakan anak Mu ini dari rumah)
- Sdr. Pare (Atas Bogaboo 60 nya)
- Gunung Gede ( Yang telah menyambut Ku dengan sejuta pesona Mu )

Catatan :

- Transport

---- Lb. Bulus - Ciawi ( Bus Parung Indah) = Rp. 15.000
---- Ciawi - Cibodas = Rp. 25.000
---- Cibodas - Taman Nasional ( Ojek ) = Rp. 15.000 *angkot sepi jadi naik ojek
---- Gn. Putri - Cibodas  = Rp.15.000
---- Cibodas - Pertigaan = Rp. 4000
---- Pertigaan - Kp. Rambutan = Rp. 25.000
---- Kp. Rambutan - Lb. Bulus = Rp. 10.000 *di ketok karena bawa keril besar
---- Lb. Bulus - Rumah = Rp. 7000

- Jalur sudah cukup jelas, ikuti jalur dan jangan membuat jalur baru,
- Hutan Gunung Gede masih lumayan rapat, jaga dan lestarikan alamnya,
- Patuhi kearifan lokal yang berlaku disana,
- Jangan berbuat vandal. Jaga warna bangunan yang telah dicat, jangan dicorat-coret lagi,
- BAB saya harap jangan di sumber air atau aliran air. Belajarlah dari kucing, gali tanah sejengkal lalu kubur lagi. Jangan jadi pendaki jorok yang merusak sumber air,
- Mencuci bekas masak juga jangan di sumber air. Ambil air dengan botol lalu cucilah di tanah yang sudah di gali sejengkal.
- Sampah harap bawa kembali turun. Sampah di Gunung Gede sudah sangat memperihatikan keberadaannya!!! Saya Harap semua pihak baik pendaki maupun Taman Nasional bisa menanggulangi masalah klasik ini.