Januar Arifin

Pendakian Gunung Papandayan 2014

Posted by Januar on Kamis, 20 November 2014


Kembali lagi dengan pendakian saya menuju Gunung Papandayan. Itulah saya yang tak pernah bosan mendaki gunung yang walaupun pernah ratusan kali mendakinya. Bagi saya, walaupun mendaki gunung yang sama berulang kali, pasti akan terasa berbeda dan tentunya akan mendapat pelajaran yang berbeda pula. Pendakian ini terdiri dari beberapa rombongan yang berjumlah sekitar 40 orang dari Jakarta. Beberapa rombongan juga berangkat dari Bandung, namun di lapangan saya sulit menemukannya sebab banyaknya pendaki saat itu.

Berikut catatan perjalanannya : 

Jumat, 7 November 2014

Sore hari pukul 16.00 kami masih sibuk untuk mengepak barang bawaan di kediaman saya di Pondok Aren. Ba'da maghrib pukul 18.30 baru lah kami mulai berangkat menuju pool bus Primajasa di daerah Gaplek Ciputat. Dari kediaman saya, kami mencarter sebuah angkot hingga Ciputat. Sore itu kami akan berkumpul di pool bus dengan rombongan lain. Sekitar satu jam perjalanan dengan kodisi jalanan sore yang padat kami tiba di pool bus Primajasa. 

Di kediaman saya
Pukul 20.00 semua rombongan sudah berkumpul di pool bus. Kami langsung naik bus yang jurusan Garut. Keuntungan naik dari pool langsung itu bisa dapat tempat duduk dan menyimpan barang bawaan di bagasi bus. Pukul 20.30 bus pun berangkat meninggalkan Ciputat menuju Garut. Kali ini bus penuh dengan para pendaki dan traveler dengan tujuan Garut. Didalam bus kami habiskan waktu untuk mengobrol dan sesekali memejamkan mata.

Sabtu, 8 November 2014

Tak terasa hari sudah berganti, kami masih dalam perjalanan menuju Garut. Malam itu kami sudah tiba di daerah Cicalengka. Saya langsung menelepon pak Ikin pemilik mobil bak carteran untuk bersiap menjemput kami di Pom Bensin Tanjung. Namun, Pak Ikin tiba-tiba tidak bersedia menjemput kami sebab para pemilik mobil bak sudah tidak lagi diperbolehkan menjemput pendaki di luar daerah Cisurupan dan Terminal Guntur.

Tak kehilangan akal saya menelepon Mang Eep. Dia sama seperti Pak Ikin pemilik mobil bak carteran pendaki. Mang Eep menyanggupi menjemput kami di Tarogong. Pukul 01.30 kami tiba di Tarogong. Mang Eep pun tak lama datang dan langsung bernegosiasi dengan saya. Ternyata saat ini pemilik mobil bak pendaki sudah dilarang menjemput pendaki diluar Cisurupan atau Terminal Guntur. Sekalinya menjemput di luar daerah Terminal dan Cisurupan harus membayar jatah angkot. Jadi kami mesti pakai jasa angkot kemudian kami turun di Cisurupan lanjut dengan mobil bak.
Yah beginilah kondisi di Garut saat ini. Pendaki kini harus membayar biaya agak lebih karena ada hal-hal seperti ini. Jangankan pendaki Jakarta, saya aja yang sering berangkat dari Bandung kadangkala mengeluarkan biaya lebih hampir sama dengan berangkat dari Jakarta.
Kemudian kami naik angkot yang sudah di organisir Mang Eep. Sementara saya dan beberapa teman naik mobil bak Mang Eep sambil menjaga barang bawaan. Karena memang semua barang bawaan ada di mobil bak sementara pendakinya naik angkot. Sekitar 45 menit perjalanan, kami tiba di Cisurupan. Kami langsung berganti dengan mobil bak semua. Perjalanan kami lanjut menuju Camp David. Saat ini jalanan aspal menuju Camp David sudah bagus tidak seperti dulu, jadi hanya membutuhkan waktu sekitar 45 menit kami sudah sampai di Camp David. Waktu menunjukan pukul 04.00 subuh. 

Tiba di Camp David kami langsung mengurus ijin masuk dan mengecek ulang barang bawaan. Pagi ini langit nampak sedikit mendung, tak ada bintang yang bertaburan seperti biasanya. Suhu juga masih terasa normal tidak terlalu dingin menurut saya.

6° - 10°
Pukul 05.00 matahari mulai menampakan wujudnya dari balik pepohonan. Saya melepas 2 orang kawan saya untuk berangkat duluan yaitu Nanang dan Arul. Mereka berdua merupakan team kerja saya di gunung. Saat ini mereka menjadi team advance. Mereka bertugas untuk mecari lapak mendirikan tenda untuk kami semua. Sebab pagi itu kami melihat banyak sekali pendaki yang naik. Sehingga saya memutuskan untuk mengirim mereka berdua untuk mencari lapak yang sedikit luas untuk tenda-tenda kami.

Pukul 05.30 kami semua sudah siap dan berkumpul membentuk lingkaran untuk sejenak berdoa memohon perlindungan dari yang Maha Kuasa agar kami semua bisa selamat sampai kembali pulang ke rumah. 

Pagi hari di Camp David
Doa dipimpin Dede Jadul yang namanya tak asing lagi di web ini :)
Setelah berdoa kami mulai melangkahkan kaki memasuki areal Kawah Gunung Papandayan. Trek landai berbatu menyambut kami. Perjalanan Gunung Papandayan memang sangat menyenangkan. Kami tak perlu buru-buru berjalan. Jalan santai sambil berfoto menikmati alam yang indah di sana. Kami terus berjalan melewati kawah dengan bau khas yang menyengat sekali. Tiba di ujung kawah, kami mengambil arah kanan dengan jalur menurun landai.

Berjalan di kawah
Kepulan asap kawah pagi itu
Sebenarnya setibanya di ujung kawah ada jalur lurus terjal mendaki. Itu tembus jalur G. Nangklak atau langsung Hutan Mati. Namun saya sudah lama tak melewatinya, sebab jalurnya kini makin terjal setelah terjadi longsor beberapa waktu lalu.
Trek kini menurun kemudian menyebrang aliran sungai. Kemudian trek menanjak sampai daerah Lawang Angin. Kali ini kawan-kawan nampak sesekali berhenti untuk menghela nafas karena tanjakan lumayan membuat lelah walaupun tidak terlalu jauh. Di Lawang Angin waktu menunjukan pukul 08.00. Masih pagi dan kami beristirahat sejenak sambil menikmati pemadangan. 

Setelah santai kami melanjutkan perjalanan, kami berhenti di pertigaan Geberhut. Disana kami harus melapor kepada petugas yang berjaga. Setelah melapor, kami lanjutkan perjalanan menuju Pondok Salada. Sekitar berjalan 20 menit dari Geberhut kami tiba di Pondok Salada. Saya langsung mencari dimana letak Nanang dan Arul mendirikan tenda. Setelah saya menemukan mereka, kami semua mendirikan tenda di tempat yang sudah dicarikan oleh Nanang dan Arul. 

Sampai Pondok Salada saya sangat kaget, ternyata sudah banyak berdiri warung yang berjualan makanan. Bahkan ada juga toilet disana. Dalam hati saya ini hutan sudah seperti perkampungan saja. Sudah tidak berkesan lagi bagi saya. Pertama hutan kini sudah dibangun bangunan semi permanen dan yang kedua karena pendaki kini tak perlu repot-repot memasak, tinggal beli sudah cukup.
Setelah tenda sudah berdiri semua, kami mulai memasak untuk sarapan pagi ini. Sarapan pagi cukup dengan mie instan dilanjut dengan ritual ngopi-ngopi menikmati alam yang semakin lama semakin berubah akibat banyaknya aktifitas manusia disana.

Masak-masak dan makan-makan
Siang itu langit sangat cerah, matahari terasa menyengat. Namun selepas pukul 12.00 langit berubah menjadi gelap. Dan hujan pun turun saat itu. Padahal niat kami siang itu berangkat menuju Tegal Alun. Akhirnya kami semua masuk tenda dan melanjutkan ritual ngopi di dalam tenda. Hujan turun tidak begitu lama hanya sekitar satu jam.  Cuaca kini menjadi sedikit dingin membuat mata terasa berat. Beberapa dari kami memilih untuk tidur. 

Cuaca berubah cepat sekali
Pukul 02.30 hujan berhenti. Saya dan beberapa teman masih setia duduk mengobrol sambil menyeruput kopi sebagai penghangat. Sebagian juga ada yang jalan-jalan berkeliling Pondok Salada sampai Hutan Mati.

Selepas hujan masih mengobrol
Gubug kami di Pondok Salada
Waktu cepat berputar, hari semakin gelap. Kami mulai masak kembali sebagai makan malam. Nasi, tempe, sosis, dan otak-otak kami olah menjadi makanan yang hangat untuk mengisi perut yang kosong.

Setelah makan, kami lanjutkan dengan ngopi-ngopi. Malam ini cuaca berkabut di Pondok Salada. Sebagian dari kawan-kawan memilih untuk beristirahat sementara saya dan beberapa kawan masih terjaga hingga tengah malam tiba. Tengah malam langit cerah bermunculan ribuan bintang dan bermencarkan cahaya bulan. Malam itu terasa indah sekali. Kami lanjutkan memasak air untuk susu dan kopi hangat. 
Gunung Papandayan sudah tak sesunyi dulu, kini di malam hari pendaki berteriak-teriak saling bersahutan. Sering terjadi di Suryakencana Gunung Gede namun tidak berlangsung lama. Beda dengan disini. Entah apa yang mereka pikirkan. Padahal selain pendaki, di alam juga ada kehidupan lain. Seharusnya mereka saling menjaga dan menghormati. Kelakuan pendaki seperti ini mudah-mudahan jangan sampai ada di gunung lain. Saya pikir memang pendaki Gunung Papandayan kebanyakan REMPAKEM (Remaja Pecinta Kemping) bukan pendaki yang saling menghargai alam dan pendaki lain.
Minggu, 9 November 2014

Pukul 01.30 dini hari, kondisi cuaca masih sangat cerah dengan ribuan bintang dan pendaran cahaya bulan, namun, suhu menurun sangat drastis sekali. Saya mulai mengenakan jaket dan masuk ke dalam tenda untuk beristirahat. Pagi itu tidur terlelap berselimut dingin Pondok Salada.

Pukul 05.30 saya terbangun oleh suara kawan-kawan yang sudah terbangun. Saya langsung keluar tenda dan bersiap-siap. Pagi ini kami akan menuju Tegal Alun. Setelah semua sudah siap, kami langsung berjalan menuju Tegal Alun. Kali ini rombongan saya arahkan melewati jalur yang belum lama dibuat atau bisa dibilang baru. Bukan lewat tebing bebatuan bukan pula melewati Tanjakan Mamang.

Nanjak-nanjak
Jalur ini cukup enak walaupun menanjak curam tetapi kita bisa berpegangan pada pohon-pohon cantigi yang menancap kuat di tanah. Trek sangat menanjak terjal terlihat beberapa kawan nafasnya mulai tersengal-sengal. Kurang lebih sekitar satu jam berjalan santai kami tiba di Tegal Alun. Disana seperti biasa kami duduk-duduk sambil berfoto ria.

Di Tegal Alun
Setelah puas berfoto dan makan-makan snack kami lanjutkan perjalanan turun melalui Tanjakan Mamang. Ternyata pagi itu banyak pendaki yang sedang naik sehingga kami harus antri bergiliran untuk turun.

Meninggalkan Tegal Alun
Turunnya antri
Setelah dirasa sedikit sepi, saya turun sambil berlari diikuti rombongan belakang. Pukul 09.00 kami sampai di areal Hutan Mati. Saya dan beberapa kawan berhenti sejenak sambil menikmati pemandangan disana sementara yang lain kembali menuju Pondok Salada untuk masak. Seperti biasa kami di Hutan Mati berfoto sambil menikmati keindahan alam yang tersaji didepan mata. 


Di Hutan Mati
Setelah dirasa cukup dan kami sudah lapar akhirnya kami kembali menuju Pondok Salada. Kala itu panas matahari sudah terasa menyengat di kepala. Kami berjalan menuju Pondok Salada sekitar 30 menit. Kemudian kami langsung memasak makanan dan sebagian juga ada yang packing barang bawaan. Makan kali ini cukup mewah ada ayam goreng, sayur, sosis dll. 

Ada yang packing ada yang masak
Setelah makan siang dan semuanya selesai packing, tak lupa kami mulai membersihkan sampah yang ada disekitar tempat kami camp. Kami sudah siap untuk kembali turun. Pukul 12.30 kami turun meninggalkan Pondok Salada. Sebelum turun kami kembali berdoa agar selalu mendapatkan perlindungan yang Maha Kuasa.

Dalam perjalanan turun kami terus berjalan dengan langkah yang sedikit cepat. Sampai Geberhut kami berhenti sebentar untuk melapor. Kemudian kami lanjutkan perjalanan turun. Lawang Angin terlewati dengan cepat sekali. Kami berjalan tanpa henti dan sekalinya berhenti di daerah awal masuk areal kawah untuk sekedar minum dan berteduh dari cahaya matahari. 

Perjalanan turun
Sekitar 5 menit beristirahat kami lanjutkan perjalanan. Kami terus berjalan tanpa henti melewati areal kawah yang baunya menyengat. Hingga akhirnya kami sampai kembali di Camp David pukul 14.30. Alhamdulillah.

Saya langsung mencari mobil bak untuk turun ke Cisurupan. Hari itu banyak sekali pengunjung di Camp David. Saya harus mencari mobil bak agar kami tidak terlalu sore sampai di terminal. Sebab terminal di Garut jika weekend seperti ini akan banyak sekali pendaki jadi kadang untuk menuju Jakarta sering tidak kebagian bus.

Tak lama kami langsung naik mobil bak dan langsung menuju Cisurupan. Perjalanan turun memakan waktu setengah jam dari Camp David. Sampai Cisurupan kami naik lagi angkot menuju Terminal Guntur. 
Dulu mobil bak dari Camp David mau mengantarkan pendaki sampai terminal. Sekarang mobil bak hanya boleh sampai Cisurupan sebab itu jatah angkot katanya. Lagi-lagi hal seperti ini membuat saya sedikit malas. Malah harganya tambah mahal pula. Garut oh Garut !! kenapa sekarang transportasi pendaki berbelit dan ribet tidak seperti dulu.
Angkot berjalan lamban sekali hampir satu jam baru lah kami tiba di Terminal Guntur. Di terminal kami bersih-bersih dan mengisi perut. Setelah semua selesai bersih-bersih, puku 17.00 kami langsung naik bus Primajasa jurusan Lebak Bulus. Dalam perjalanan kami habiskan waktu untuk beristirahat terlelap dalam dinginnya ac bus. Pukul 23.30 kami sampai Terminal Lebak Bulus Jakarta. Saya langsung mencarter angkot ke rumah. Pukul 12.30 saya dan kawan-kawan sudah sampai di rumah saya. Alhamdulillah,, semuanya selamat tanpa kekurangan satu hal pun. Malam itu kami lanjutkan dengan acara bersih-bersih peralatan yang sudah dipakai.

Terima kasih sudah menyimak. Sampai jumpa di Pendakian si Janu lainnya!! Salam Lestari !!!

Si Janu
Petualang
Sebebas camar engkau berteriak,
Setabah nelayan menembus badai,
Seikhlas Karang menunggu ombak, 
Seperti lautan engkau bersikap - Iwanfals

Thanks To :

- Allah S.W.T,
- Orang Tua yang selalu mendoakan anaknya main di hutan,
- Rekan seperjalanan (Malafika, GDM, dll),
- Mang Eep,
- Gunung Papandayan yang selalu menyambut saya dengan keindahannya.

Catatan :
  • Jaga kelestarian alam Gunung Papandayan,
  • Bawa SAMPAH turun kembali,
  • Jangan berbuat Vandal biarkan alam Papandayan tetap terjaga,
  • Jangan menebang pohon hanya untuk api unggun (kalau mau hangat jangan ke gunung, kepantai aja sana!!),
  • Jangan membuka lahan untuk mendirikan tenda. (Pondok Salada berubah drastis, banyak spot yang dulunya pepohonan kini sudah rata tanah),
  • Pendaki gunung harus saling menghargai dengan pendaki lain atau alam sekitarnya. Jangan berteriak-teriak di malam hari (menggangu pendaki yang beristirahat dan binatang-binatang yang ada disana).

Pendakian Bersama Gunung Papandayan (Open Trip)

Posted by Januar on Sabtu, 01 November 2014


Saya bersama kawan-kawan mengadakan Pendakian Bersama Gunung Papandayan. Tujuan Pendakian ini adalah sharing-sharing serta ngopi bersama untuk mempererat silaturrahmi diantara penggiat alam. Kegiatan ini terbuka untuk umum. Barangkali ada yang minat silahkan hubungi contact person yang tertera pada gambar. 

Itinerary :
Hari Pertama :

  • Tangga 7 November Pukul 19.00 meeting point di daerah Bintaro Pondok Aren (Tempat Keberangkatan Bus yang kami sediakan)
Hari Kedua :

  • Diperkirakan tiba di Cisurupan Pukul 03.00 (berganti menggunakan mobil pick-up menuju Camp David)
  • Pukul 05.00 diperkirakan tiba di Camp David
  • Packing ulang dan istirahat sebelum mendaki
  • Pukul 06.00 mulai trekking (berjalan santai sambil menikmati panorama Areal Kawah Vulkanik dan Daerah Lawang Angin)
  • Pukul 10.00 Tiba di Pondok Salada (Mendirikan tenda dan istirahat sejenak)
  • Pukul 11.00 Trekking menuju Tegal Alun
  • Pukul 12.00 Sampai di Tegal Alun. (menjelajahi kawasan ladang edelweis di Tegal Alun dan Snacking makan siang)
  • Pukul 14.00 Menuju ke Pondok Salada
  • Pukul 15.00 Tiba di Pondok Salada (istirahat dan Istirahat masuk tenda masing-masing)
  • Pukul 15.00 - Pukul 04.00 keesokan harinya, acara bebas, dooprize, sharing dan istirahat di tenda masing-masing
Hari Ketiga   
  • Pukul 04.30 Bangun dan sarapan pagi
  • Pukul 05.00 Menuju Hutan Mati dan Kawasan G. Nangklak
  • Pukul 05.30 Sampai di hutan mati (menikmati Hutan mati dan berfoto)
  • Pukul 08.00 kembali menuju Camp di Pondok Salada
  • Pukul 08.30 Tiba di Pondok Salada (packing perlatan masing-masing)
  • Pukul 09.30 Meninggalkan Pondok Salada
  • Pukul 12.00 Tiba di Camp David
  • Pukul 13.00 Menuju Kota Jakarta kembali.

Terima Kasih,
Januar Arifin

Pendakian Gunung Cikuray 2818 Mdpl "Duet Maut"

Posted by Januar on Jumat, 31 Oktober 2014


Pendakian kali ini awalnya tercetus dari pesan yang dikirimkan oleh teman saya yaitu Kang Bayu dari Bandung. Diperkirakan hanya 11-12 orang yang akan berangkat, ternyata oleh komunitas beliau (Satu Bumi Kita) dijadikan sebuah acara pendakian bersama berjumlah 25 orang lebih. Saya pun ikut serta bersama teman seperjalanan yaitu Madhot. Walaupun ternyata terjadi kendala diluar keinginan yang menyebabkan saya hanya berangkat berdua dengan Madhot. 

Berikut kisah selengkapnya : 

Jumat, 24 Oktober 2014

Sore hari saya masih terjebak kemacetan di daerah Soreang, Kab. Bandung untuk mengambil beberapa peralatan pendakian yang ada dirumah saudara. Sementara rombongan Mang Bayu sudah berkumpul di Terminal Cicaheum. Saya sudah merasa tidak akan bisa mengejar waktu lagi, akhirnya saya dan Madhot memutuskan untuk berangkat dari Terminal Leuwipanjang pada pukul 18.30 dan berjanjian dengan rombongan Mang Bayu di Garut. 

Namun, rencana hanya tinggal rencana. Kami terjebak kemacetan mulai dari exit toll Cileunyi sampai Rancaekek. Tak sampai disitu kemacetan juga ada di daerah Kadungora sampai Leles Garut. Saya sudah pasrah dan mempersilahkan rombongan Kang Bayu untuk berangkat menuju Pemancar Gunung Cikuray duluan.

Pukul 23.30 kami berdua baru tiba di Kota Garut. Kami turun di pom bensin Ciateul. Kami duduk-duduk sejenak sambil menunggu truk atau mobil pick-up yang lewat dengan tujuan menumpang sampai Terminal Guntur. Tak lama menunggu ada sebuah truk menawarkan untuk tumpangan gratis menuju terminal, kami langsung naik tanpa basa-basi. 

Sabtu, 25 Oktober 2014

Pukul 00.15 kami tiba di Terminal Guntur. Disana kami bertemu beberapa pendaki yang juga mau mendaki Gunung Cikuray. Kami ikut dengan mereka agar biaya sewa mobil pick-up-nya sedikit lebih miring. Akhirnya pada pukul 02.00 kami berangkat dari Terminal Guntur menuju Pemancar Gunung Cikuray. 

Perjalanan dari Terminal Guntur sampai Pemancar Gunung Cikuray memakan waktu sekitar satu jam setengah. Pukul 03.30 kami tiba di Pemancar Gunung Cikuray. Disana banyak sekali pendaki sehingga saya sulit menemukan Kang Bayu dan kawan-kawan. Saya berfikir mereka sudah jalan duluan sedari tadi.

Pukul 04.30 saya dan Madhot bersama teman-teman yang baru saja bertemu di teminal tadi sekitar 5 orang, kalau ga salah mereka dari Bekasi bersiap berangkat setelah mengisi full persediaan air. Kami memulai pendakian dengan berdoa terlebih dahulu agar setiap langkah kaki kami diberikan keselamatan oleh Sang Pemilik Kehidupan. 

Perjalanan dimulai dengan trek menanjak di areal perkebunan teh Dayeuh Manggung. Kemudian masuk kedalam hutan yang tak terlalu rapat. Pagi ini cuaca nampak berkabut dengan angin yang berhembus sangat kencang. Kami terus berjalan dengan santai sambil menikmati sejuknya udara pagi. Hari itu saya sangat bersemangat, langkah kaki terasa ringan sekali, mungkin seminggu lalu saya baru turun dari Gunung Gede, jadi kaki masih terasa nikmat di trek menanjak. Sementara rekan seperjalanan yaitu Madhot terlihat harus mulai beradaptasi lagi dengan kakinya sebab sudah lama ia tak mendaki gunung. 

Hari cepat sekali berubah menjadi terang, kami sudah berada di Pos 1. Kami berhenti sejenak untuk beristirahat. Setelah berhenti sejenak kami lanjutkan perjalanan. Kali ini langkah kaki lebih lambat sebab trek semakin terjal. Sering kami berhenti untuk sekedar menghela nafas dan menghisap batang-batang kehidupan. 

Si Janu (mentari pagi baru saja muncul langsung foto)
Tiba di Pos 2 kami langsung berjalan sebab tiap pos terlihat ramai oleh pendaki. Kami lebih memilih beristirahat di tempat yang agak sedikit sepi. Semakin tinggi mendaki semakin kami merasa kantuk yang sangat berat. Sebab dari kami berdua belum tidur dari kemarin malam. Kami berjalan terus melawan rasa kantuk di trek yang semakin terjal ini. 

Pukul 09.14 kami tiba di Pos 3. Disana juga banyak sekali pendaki yang mendirikan tenda. Kami terus melanjutkan pendakian dan mencari tempat yang sedikit sepi untuk beristirahat. Di Pos 3 ini kami berpisah dengan rombongan Bekasi yang bareng sejak terminal semalam. 

Kami harus pintar-pintar mengatur sisa-sisa tenaga, sebab selepas Pos 3 trek semakin menanjak curam. Tipe trek Gunung Cikuray sebenarnya mirip dengan Gunung Ciremei di Kuningan sana. Hanya saja trek Gunung Cikuray ini lebih pendek dibanding Gunung Ciremei. Makanya sering saya menyebutnya "Cikuray itu adalah Ciremei versi mini".

Trek Cikuray
Kami terus berjalan dengan sesekali berhenti menghela nafas. Ada satu spot dimana kami berhenti lumayan lama untuk mengisi perut dengan roti yang sudah dibawa dari rumah. Kami berhenti sekitar satu jam.

Hari ini nampak banyak sekali pendaki yang ingin naik ke atas. Memang Gunung Cikuray menjadi primadona saat ini semenjak kegiatan pendakian gunung ini sedang naik daun dikalangan pemuda Indonesia. Dahulu Gunung Cikuray ini termasuk sepi pendaki, paling banyak 5 rombongan yang mendaki. Kini hampir ratusan orang naik setiap weekend-nya. Hampir setiap pos dipenuhi tenda pendaki. Dalam pikiran saya selalu ditakuti oleh perasaan kalau kami tidak akan kebagian lapak untuk mendirikan tenda, untuk itu kami melanjutkan perjalanan kembali.
Setiap pos di Gunung Cikuray ini sangat sempit paling banyak bisa menampung 15 tenda. Untuk itu mendaki lah sedari malam hari agar mendapatkan tempat yang nyaman untuk mendirikan tenda.
Pos 4 dan pos 5 kami lewati dengan pasti. Kami berjalan santai menapaki satu demi satu tanjakan yang semakin lama semakin terjal. Pukul 12.30 kami tiba di Pos 6 atau Puncak Bayangan. Di pos ini ramai sekali pendaki yang sudah mendirikan tenda. Kami maju sedikit di tanah yang sedikit lapang lalu duduk untuk beristirahat.

Disini saya meninggalkan Madhot sendirian. Saya berniat untuk mendaki sedikit cepat sambil mencari lapak untuk mendirikan tenda. Madhot sudah mulai kelelahan dan nampak kantuk mendera dirinya. Saya mulai mendaki dengan cepat berharap lapak di Pos 7 atau dataran sebelum Puncak masih ada yang kosong.

Sekitar setengah jam saya mendaki dengan sedikit berlari saya sampai di Pos 7. Di pos tersebut hanya ada lapak seluas kisaran 2 tenda. Saya akhirnya maju sedikit ke atas dan menemukan Pos 7 yang agak luas. Disana sudah banyak berdiri tenda. Saya mencari tempat yang sedikit kosong untuk ukuran tenda 2 orang.

Disana saya mendapatkan lapak untuk tenda saya yang berukuran 2 orang. Tapi posisi tanah miring untuk mendirikan tenda. Bagi saya kemiringannya masih sangat normal untuk tenda karena saya pernah tidur miring sekali waktu di Pestan Gunung Sumbing sana. Saya berbincang sejenak dengan 2 orang pendaki. Mereka adalah anak-anak dari Garut. Setelah saya berbincang sambil beristirahat sejenak. Saya menitipkan barang kepada mereka lalu saya kembali turun untuk menjemput Madhot.

Dalam perjalanan turun saya bertemu banyak pendaki yang naik. Rata-rata pendaki yang naik bertanya tentang adakah lapak yang kosong untuk mendirikan tenda.Hari itu memang semua lapak mendirikan tenda sudah full menurut saya.

Sedang asyik menikmati jalur turun saya bertemu Kang Gustav dari SatubumiKita Bandung. Saya sempat mengobrol sejenak, karena mereka lah rombongan yang sedari awal harusnya bareng dengan saya. Karena macet kemarin jadi tidak bisa mendaki bersama. Kang Gustav juga menanyakan tentang lapak yang kosong di Pos 7. Namun saya yakin diatas masih ada beberapa lapak yang bisa dimaksimalkan untuk tenda lagi.

Saya tak lama turun langsung bertemu Madhot sedang beristirahat dan tidur dibawah pohon. Kami langsung mendaki ke atas kembali menuju tempat yang sudah saya dapat di Pos 7. Sekitar 45 menit berjalan akhirnya kami sampai di Pos 7. Kami langsung mendirikan tenda dan langsung membuat mie instan sebagi pengisi perut yang sedari malam belum terisi.

Baru kali ini bawa snack segede ini
Lapak tenda penuh terpaksa ditempat agak miring
5 Tahun Janu Jalan Jalan
Hari beranjak gelap, saya beserta pendaki disamping tenda berbincang-bincang hingga sekitar pukul 20.00. Kemudian saya masuk ke dalam tenda untuk beristirahat. Cuaca diluar nampaknya mulai gerimis dan berkabut tebal. Malam ini terasa sangat dingin sekali ditambah kondisi badan yang sedang tidak bagus. Akhirnya saya terlelap dalam selimut dingin angin Cikuray.

Minggu, 26 Oktober 2014

Pukul 03.00 saya terbangun dari tidur. Pagi ini badan terasa dingin sekali. Saya akhirnya kembali masuk ke dalam sleeping bag untuk kembali tidur. Pukul 08.00 saya kembali terbangun. Kali ini saya langsung bergegas memasak nasi untuk sarapan pagi hari. Hari itu nampak berkabut, beberapa pendaki lain yang baru turun dari puncak berkata bahwa di puncak cuaca sangat gelap berkabut. 

Pukul 09.00 semua masakan telah matang. Saya beserta teman-teman sekitar tenda yang berasal dari Garut dan Majalaya ikut sarapan bersama. Menu hari ini cukup sederhana yaitu sayur sop, tempe, dan mie instan. 

Sarapan Pagi
Selesai sarapan, kami semua beres-beres tenda dan mulai packing barang bawaan. Kawan-kawan dari Garut dan Majalaya memilih pulang duluan. Sementara saya dan Madhot masih santai dalam packing barang. Kami packing semua barang namun menyisakan tenda. Semua barang dimasukan dalam tenda dan saya berniat untuk ke Puncak Cikuray sebentar.


Dari tempat kami mendirikan tenda ke Puncak Gunung Cikuray paling lama 10 menit. Setibanya kami di puncak masih terdapat beberapa pendaki yang belum turun. Cuaca memang cerah namun berkabut. Pemandangan ke bawah dan sekitar puncak kali ini kurang bagus. Tak masalah bagi kami sebab kami bukan pengejar pemandangan yang indah tapi kami pengejar pelajaran dan pengalaman dalam setiap pendakian. 
Saya yakin dari 100% pendaki yang mendaki di hari itu sekitar 90% nya kecewa sebab tidak bisa melihat lautan awan di Puncak Gunung Cikuray. Karena cuaca dari pagi berkabut terus. Gunung Cikuray bukan sekedar lautan awan yang indah tapi pelajaran dari setiap jengkal tanah yang kita pijak juga indah.
Keadaan puncak tak berubah begitu banyak menurut saya, hanya beberapa lokasi berubah. Dimana lokasi dahulu merupakan pepohonan kini menjadi tanah lapang tempat mendirikan tenda. Bangunan di puncaknya juga sudah banyak lagi coretan-coretan oleh pendaki yang tidak bertanggung jawab. 
Selain sampah, masalah klasik di dunia pendakian adalah vandalisme tulisan di bangunan-bangunan pos, ukiran-ukiran di pohon. Inilah pendaki Indonesia, semakin banyak yang mengaku pecinta alam tapi alam semakin rusak. Miris!!
Di puncak kami sempat berfoto sejenak dan menikmati semilir angin yang berhembus. Waktu menunjukan pukul 11.00 saat itu.

Puncak sedikit berkabut siang itu
Di Puncak
Di Puncak
Pukul 12.00 kami memutuskan untuk turun dari Puncak Gunung Cikuray dan kembali menuju Pos 7 dimana tenda kami berada. Sekitar 5 menit turun kami tiba di Pos 7. Pos 7 sudah sepi dari pendaki, sebagian dari mereka sudah turun. Saya kembali packing barang bawaan. Setelah semua barang bawaan beres kami langsung "operasi semut" membersihkan sampah yang ada di Pos 7 dan memasukannya kedalam karung yang kami bawa. Seperti biasa saya namakan ini Aksi Karung Beras.

Pos 7 (terasa damai kalau sepi seperti ini)
Aksi Karung Beras
Pukul 12.30 kami sudah beres semuanya, kami mulai meninggalkan Pos 7. Kami berjalan turun dengan langkah pasti dan cepat. Sekitar setengah jam lebih kami tiba di Pos 6 Puncak Bayangan. Disana kami berhenti sejenak dan kembali mengumpulkan sampah dan memasukannya ke dalam karung.

Setelah dirasa cukup kami melanjutkan perjalanan. Kami berjalan turun dengan cepat namun tetap fokus. Pos 5 dan 4 tak sadar sudah kami lewati saat itu. Pukul 14.00 kami tiba di Pos 3. Disana kami berhenti sedikit lama untuk beristirahat minum dan menghisap beberapa batang rokok. Kami mengangkut beberapa sampah lagi untuk dimasukan dalam karung di Pos ini. 

Pukul 14.15 kami melanjutkan perjalanan turun dengan sedikit berlari hingga kami berhenti istirahat kembali di Pos 1 sekitar setengah jam. Dari Pos 1 kami berlari turun lagi menuju Pemancar. Di tengah perjalanan turun sebelum Pemancar saya kembali bertemu dengan Kang Gustav dan rombongannya. Akhirnya juga saya bertemu dengan Kang Bayu. Di atas ladang hampir sampai Pemancar saya beristirahat lagi sambil berbincang dengan Kang Bayu. Kemudian kami turun menuju Pemancar dan tercatat saat itu pukul 16.50. Alhamdulillah, kami semua selamat tanpa kekurangan satu hal yang berarti.

Pemancar ada disana
Kang Panggul sampah
Kang bawa aer
Sore itu, saya dan Madhot berniat untuk balik bareng dengan rombongan Satubumikita ke Bandung. Mereka mencarter truk sampai Terminal Guntur. Pukul 18.45 truk meninggalkan Pemancar menuju Terminal Guntur. Satu jam perjalanan kami tiba di Terminal Guntur. Kemudian kami langsung naik bus jurusan Terminal Cicaheum Bandung. Tiba di Bandung pukul 24.00. Kami berpisah dengan rombongan SatubumiKita di Cicaheum, karena kami melanjutkan dengan angkot menuju Kb. Kalapa. Akhirnya saya tiba di kosan Pukul 01.00. Alhamdulillah perjalanan kali ini tak ada halangan yang berarti.

Terima kasih Sudah menyimak. Sampai Jumpa di Pendakian Si Janu Lainnya!! Salam Lestari !!!

Thanks to :

- Allah S.W.T
- Madhot rekan seperjuangan
- Kawan dari Garut dan Majalaya (Berkat kompornya saya jadi bisa masak)
- Orang Tua ( Yang selalu mendoakan anak Mu ini)
- Komunitas SatubumiKita
- Gunung Cikuray ( Yang selalu menyambut Ku dengan sejuta pesona Mu).

Catatan :

-  Di Gunung ini tidak ada sumber air. Usahakan isi di desa atau di pemancar,
-  Trek lumayan menguras tenaga jangan sepelekan, badan kondisikan fit,
-  Jalur sudah cukup jelas, ikuti jalur dan jangan membuat jalur baru,
-  Hutan Cikuray masih sangat rapat, jaga dan lestarikan alamnya,
-  Patuhi kearifan lokal yang berlaku disana,
-  Jangan berbuat vandal. Jaga warna bangunan yang telah dicat, jangan dicorat-coret lagi,
- Jangan membuang air kencing di botol air mineral. Saya banyak menemukan botol berisi air kencing pendaki yang dibuang begitu saja di hutan. Kencing lah seperti biasa dan bawa turun botolnya!!!
-  SAMPAH bawa turun kembali !!!!

Selfie dulu biar kekinian :D